Anda disini : TOP >> SURAT UNTUK SAHABAT >> Duhai Sahabatku
Duhai Sahabatku

Teman Sejati
Tapi waspadalah, kita harus hati-hati memilih teman yang akan diakrabi.

Tak dapat dipungkiri, manusia sebagai makhluk sosial tak dapat hidup dan mengisi kehidupan ini sendiri. Ia selalu membutuhkan teman, sahabat. Tapi waspadalah, kita harus hati-hati memilih teman yang akan diakrabi. Ingat, bahwa pertemanan itu dapat mencuri tabiat.
" Seseorang akan ikut berada pada agama temannya. Karena itu, hendaklah salah seorang di antara kamu memperhatikan siapa temannya itu."(H.R. At-Tirmidzi)

Seseorang, manakala cocok berteman/bersahabat, kemungkinan ia akan tergoda untuk mengikuti jejak temannya. Misalnya seorang akhwat/ikhwan bergaul dengan lawan jenis yang tidak mengenal batas-batas pergaulan, sering berbohong pada orang tua, melalaikan shalat, sangat mungkin ia akan terjerumus mengikuti tabiat temannya tersebut.

Dalam H.R. Bukhari-Muslim diriwayatkan, "Perumpamaan teman yang saleh dengan teman yang buruk bagaikan pembawa minyak kesturi dengan peniup api. Teman yang baik ibarat pembawa minyak kesturi, ia akan memberimu, engkau membeli darinya, atau engkau mendapatkan bau yang harum darinya. Sedangkan teman yang buruk ibarat peniup api, ia akan membakar pakaianmu atau engkau akan mendapatkan bau yang busuk darinya".

Peluang untuk terjerumus pada dosa akibat ajakan teman karib, dengan proses interaksi yang semakin intensif akan semakin terbuka, apalagi bila didukung oleh kurang kuatnya iman. Peringatan dan tuntunan dalam memilih teman dimaksudkan untuk manfaat kita sendiri.

Mempunyai keinginan merasakan manisnya iman, ingin mendapat naungan Allah pada hari kiamat, kepuasan mendapat Allah, tidak lalai oleh dunia dan hawa nafsu, menegakkan amar ma'ruf nahyi munkar, terbebas dari dengki, dendam, tidak kikir, adalah ciri-ciri manusia yang dapat kita jadikan teman sejati. Persaudaraan karena keimanan kepada Allah akan lebih kuat dan lebih langgeng.

Sebaliknya, ikatan selain itu adalah fana, akan terputus, apalagi kalau berdasarkan kebatilan.
"Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa."? (Q.S. Az-Zukhruf : 67).

Pertemanan seseorang akan membuahkan manisnya iman bila dibangun oleh tiga hal; Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai olehnya daripada selain keduanya, mencintai seseorang hanya karena Allah, dan ia enggan kepada kekafiran setelah Allah menyelamatkannya kepada Islam sebagaimana ia enggan dilempar ke dalam api neraka.
"Manakah mereka yang dahulu saling mencintai karena kebesaran-Ku. Pada hari ini Aku akan naungi mereka dengan naungan-Ku, yang tidak ada naungan selain naungan-Ku". (H.R. Muslim).

Betapa bahagianya pertemanan yang dapat mendekatkan kita dengan Sang Pencipta. Dalam suatu hadits disebutkan :
"Kecintaan-Ku pasti diperoleh oleh mereka yang saling mencintai karena-Ku, dan kecintaan-Ku pasti diraih oleh mereka yang saling memberi karena-Ku".
Dalam hadits lain dikemukakan bahwa ada sekelompok orang, mereka bukanlah nabi dan bukan pula syuhada, namun para nabi dan para syuhada iri dengan mereka karena keutamaan mereka. Para sahabat bertanya, "Siapakah mereka ya Rasulullah? Rasulullah menjawab, "Mereka adalah kaum yang saling mencintai karena Allah, bukan karena mereka satu nasab, juga bukan karena berbisnis. Wallahi, wajah mereka penuh dengan cahaya, mereka tidak takut ketika orang-orang takut dan mereka tidak gelisah kala orang-orang gelisah." ( H.R. Ahmad dan Abu Dawud).

Bila mencintai karena Allah, membenci pun mesti karena Allah. Cinta karena Allah tak kan pernah bersatu dengan cinta terhadap sesuatu yang bertentangan dengan Allah. Orang yang tidak membenci kemunkaran, kemaksiatan, dan musuh-musuh Allah, jelas tidak mungkin mencintai Allah. Bahkan kita tidak boleh mencintai orang yang membenci syariat Allah, walaupun orang itu adalah orang tua, suami, atau anak kita sendiri.
"Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu jadikan bapak-bapakmu dan saudara-audaramu sebagai pemimpinmu, jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan." (At-Taubah: 23).

Dengan ukhuwah, hati seseorang menjadi bersih dari perasaan dengki, dendam, dan permusuhan. Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa Rasulullah mengatakan pada para sahabat tentang seorang penghuni surga. Kemudian Abdullah bin Amr bin Ash bertamu ke rumah orang yang dinyatakan Rasulullah sebagai ahli surga itu. Setelah sampai di rumahnya, Abdullah bin Amr tidak melihat ia mengerjakan amal yang istimewa. Abdullah bin Amr kemudian bertanya kepada orang tersebut, "Apakah engkau punya amalan istimewa? Aku mendengar Rasulullah menyatakan engkau sebagai penghuni surga.? Laki-laki itu menjawab, Tidak ada. Amalanku biasa saja, seperti yang engkau lihat. Hanya saja di dalam hatiku tidak mempunyai rasa dengki atau dendam sedikitpun kepada seorang muslim."

Pertemanan yang dapat menyelamatkan hanya dimiliki oleh orang-orang yang merasa terpanggil untuk menegakkan amar ma'ruf nahyi munkar, taat kepada Allah dan Rasul-Nya.

"Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh mengerjakan yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, membayar zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah SWT"(Q.S. At-Taubah: 71).

Harapan kita adalah mendapatkan teman sejati yang dapat membuahkan manisnya iman. "Dan barang siapa yang mentaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, para shidiqin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang shaleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya." (Q.S. An-Nisa: 69).


Track Back : http://manage.catatanku.com/tb.cgi/331_988_2008_06