Anda disini : TOP >> CERPEN >> Sepotong Cerita Seorang Alia
Sepotong Cerita Seorang Alia

 

¡ÈApakah Alia fikir ibu  dan ayah akan tenang melihat anak gadisnya terus hidup sendirian tanpa penjagaan dari seorang suami? Kami bukan akan melepaskan tanggungjawab kami sebagai orang tua, tapi itu merupakan tanggungjawab orang tua mencarikan seorang suami yang baik untuk anak gadisnya.¡ÉKata ayah.

 ¡ÈAlia..¡É Seru ayah setelah melihat aku berdiam diri dan berfikir agak lama.
¡ÈPercayalah, kami membuat keputusan ini adalah untuk kebaikan Alia sebab kami benar-benar terlalu sayang Alia.¡É;

¡ÈIni cincinnya, pakailah.¡É Ibu  meletakkan satu kotak cincin kecil pinangan dari seorang ikhwan di hadapanku  yang sama sekali aku tidak kenal. Perasaanku tidak menentu. Apa yang patut aku lakukan sekarang. Sekiranya aku menerima dan setuju dengan keputusan ibu dan ayah menerima pinangannya, berarti aku telah membiarkan cita-citaku semakin kabur dan sulit diraih. Cita-cita ingin menjadi seorang perempuan paling expert di bidang komputer bergelar Doktor dan terkenal di IndonesiaNamun sekiranya aku menolak, berarti aku telah melukai hati kedua-dua orang tuaku. Orang tua yang telah banyak berjasa dalam hidupku dan tanpa mereka, aku takkan hadir dan mustahil untuk melihat dunia ini.

¡ÈAhhhhgggg¡Ä¡ÉKeluhku sendiri. Aku dalam dilema. Yang manakah patut aku utamakan? Perasaan sendiri atau perasaan dan harapan ibu dan ayah. Aku selalu tidak tega bila melibatkan perasaan ibu dan ayah. Aku terlalu takut untuk melukai hati mereka. Aku takut hidupku nanti tidak barakah. ¡Ä¡Ä¡Ä¡Ä¡Ä¡Ä¡Ä¡Ä¡Ä¡Ä
Notes:

Imam Tirmidzi ra. meriwawayatkan dalam Jami¡Çnya dari Abu Hurairah ra, ia berkata, Rasulullah Saw bersabda: ¡ÈJika seorang lelaki yang engkau ridhai agamanya dan akhlaknya datang meminang kepada kalian, maka nikahkanlah ia (dengan putrimu). Jika tidak kalian lakukan, maka akan timbul fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar.¡É

Track Back : http://manage.catatanku.com/tb.cgi/331_990_2008_06